 |
| Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik oleh Gapoktan se Kecamatan Baron |
Di pedesaan, sangat biasa bagi sebuah keluarga untuk memiliki hewan ternak. Permasalahan yang terkadang muncul adalah banyak petani yang menggunakan pupuk kandang tanpa mengetahui standar ideal kematangan pupuk. Peternak biasanya membiarkan kotoran ternak hingga berhari-hari di kandang atau ditimbun di ruang terbuka. Oleh karena itu Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk melalui Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Baron mengadakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik yang diikuti oleh perwakilan petani se Kecamatan Baron yang betempat di Gapoktan Ridho Tani Desa Gebangkerep Kecamatan Baron.
Dalam pelatihan ini dijelaskan metode pembuatan pupuk organik yang mudah dan mudah diaplikasikan. Limbah kotoran ternak yang ditumpuk tanpa perlakuan tertentu belum bisa dikategorikan sebagai pupuk. Setiap hari terdapat kotoran baru yang muncul kemudian ditumpuk lagi di bagian atasnya. Proses dekomposisi secara alami oleh alam tanpa bantuan Suplemen Organik Cair (SOC), misal : EM4 berlangsung dalam jangka waktu lama, 3 -6 bulan Sehingga pada saat waktu pemupukan tiba, hanya bagian bawah kotoran yang sudah terdekomposisi, sedangkan bagian atas masih mentah. Pupuk yang diberikan dalam kondisi kurang matang menimbulkan berbagai dampak negatif dan belum siap diserap oleh tanaman.
Dampak Penggunaan Kotoran Ternak yang Kurang Matang
1. Menyerap Unsur Hara Dalam Tanah
 |
Pupuk Kandang Yang Belum Terdekomposisi Sempurna |
Proses pembusukan kotoran ternak oleh mikroorganisme memerlukan unsur Nitrogen (N) dan Oksigen (O2) dalam prosesnya, sehingga mikroorganisme mengambil unsur hara yang tersedia dalam tanah dalam jumlah besar. Hal ini akan mengurangi ketersediaan hara dalam tanah yang seharusnya bisa dimanfaatkan tanaman dalam proses pertumbuhannya.
2. Meningkatkan suhu tanah
Kandungan karbon dan nitrogen pada kotoran merangsang pertumbuhan mikroorganisme pengurai dan menyebabkan kenaikan suhu tanah. Pupuk kandang yang belum matang mengandung gas metane, yang menyebabkan tanaman layu kering dija diaplikasikan secara langsung. Selain itu pupuk kandang yang masih panas juga akan membunuh cacing tanah yang baik untuk kesuburan tanah.
3. Mengandung racun dan patogen bagi tanaman
Proses dekomposisi yang kurang sempurna memungkinkan munculnya patogen tertentu seperti jamur, gulma, dan bakteri merugikan, dan senyawa asam organik, amoniak, dan fenol yang bersifat racun bagi
pertumbuhan tanaman.
Standard Ideal Kematangan Pupuk Kandang
Pupuk kendang yang sudah terdekomposisi sempura dan siap digunakan untuk tanaman memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1. Tidak mengeluarkan bau khas kotoran.
2. Mengalami perubahan warna menjadi hitam kecokelatan.
3. Kondisi suhu normal.
4. Tekstur kering dan mudah remuk jika diremas.
Teknik Fermentasi Pupuk Kandang
Oleh karena itu, hendaknya kotoran ternak diperlakukan dahulu sebelum digunakan untuk menghindari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, salah satunya menggunakan metode fermentasi. Adapun cara fermentasi pupuk kandang adalah sebagai berikut :
- Pupuk kandang ditabur dengan ketebalan sekitar 10 cm.
- Abu, Dolomit dan bio stardec (atau EM4) diaduk kemudian disebarkan diatas tumpukan pupuk kandang hingga merata.
- Taburkan pupuk kandang diatas taburan campuran bahan-bahan tadi dengan ketinggian sekitar 10 cm. Kemudian tutup rapat menggunakan plastik atau terpal dan diamkan selama 1 bulan.
- Setelah itu di aduk merata dan diamkan selam 4 - 5 Hari. Pupuk kandang yang sudah difermentasi sudah siap untuk digunakan.
*Penulis : Purwandhito Rahmanto Adi, SP.
Penyuluh Pertanian WKPP Baron III
Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Baron